Revitalisasi Uwi: Solusi Strategis Ketahanan Pangan dan Konservasi di Jawa Tengah
Ungaran – Dalam pertemuan Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) yang berlangsung pada Selasa (28/4/2026), Dosen Departemen Budidaya Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr.nat.techn. Rizky P Kirana, M.Sc., memaparkan urgensi revitalisasi Uwi (Dioscorea spp.) sebagai komoditas strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Langkah ini diambil mengingat kondisi ketahanan pangan Indonesia yang dinilai masih rapuh akibat ketergantungan tinggi pada beras, yang mencakup sekitar 90% konsumsi karbohidrat nasional.
Uwi dinilai sebagai sumber karbohidrat alternatif yang sangat potensial karena sifatnya yang adaptif di lahan marginal, tahan naungan, serta relatif tahan terhadap kekeringan. Di Jawa Tengah, wilayah seperti Magelang, Blora, dan Klaten memiliki potensi besar untuk pengembangan Uwi melalui sistem agroforestri dan pemanfaatan lahan kering.
Selain sebagai sumber energi stabil, Uwi memiliki nilai gizi yang unggul dibandingkan sumber karbohidrat lain. Uwi kaya akan serat pangan, vitamin (C, A, B1, B2), serta mineral seperti kalium dan fosfor. Secara medis, tanaman ini mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin sebagai antioksidan dan diosgenin yang berpotensi sebagai anti-inflamasi serta membantu mengontrol gula darah.
“Namun, keberadaan Uwi saat ini terancam oleh erosi genetik dan kurangnya sistem benih formal. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan strategi pengelolaan berkelanjutan”, ujar Rizky. Strategi yang dimaksud mencakup konservasi in-situ dan ex-situ untuk menjaga keragaman varietas lokal, pengembangan rantai nilai seperti mengolah Uwi menjadi tepung atau pangan fungsional untuk menyasar pasar makanan sehat (healthy food), serta penguatan kelembagaan petani dan integrasi dengan kawasan hutan (Perhutani).
Revitalisasi ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan sumber daya genetik lokal, tetapi juga menciptakan kemandirian pangan berbasis komunitas yang lebih tangguh di masa depan.